Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Strategi Desa di Sragen jika Perantau Paksakan Mudik Lebaran

Kresna sudah menyiapkan Poliklinik Desa Sambi sebagai rumah isolasi mandiri.
Tri Rahayu
Tri Rahayu - Bisnis.com 21 April 2021  |  10:16 WIB
Foto aerial bus antar kota antar provinsi (AKAP) berada di Terminal Pulo Gebang di Jakarta, Kamis (23/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Foto aerial bus antar kota antar provinsi (AKAP) berada di Terminal Pulo Gebang di Jakarta, Kamis (23/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, SRAGEN - Beberapa desa di Kabupaten Sragen sudah menyiapkan langkah-langkah mengantisipasi kedatangan perantau yang nekat pulang kampung meskipun ada larangan mudik Lebaran 2021.

Di Desa Sepat, Masaran, Sragen, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 tingkat desa menyiapkan 100 anggota Satgas untuk antisipasi kedatangan pemudik.

Kepala Desa Sepat, Masaran, Mulyono mengatakan, bahwa 100 anggota Satgas Jogo Tonggo bertugas memantau pemudik yang datang secara harian dan memperketat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Sementara itu, Satgas di Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen, juga menyiapkan strategi sendiri dalam antisipasi pemudik.

Kepala Desa Sambi, Kresna Widya Permana,  menyebut jumlah perantau asal Sambi cukup banyak, sekitar 1.500-an orang.

“Para perantau itu kebanyakan sopir-sopir dan bekerja pada proyek bongkaran rumah dan seterusnya. Memang ada beberapa yang hendak pulang, tetapi ada yang tetap tinggal di perantauan mengingat adanya aturan larangan mudik dengan memperketat mobilisasi pemudik,” ujarnya saat dihubungi Solopos.com, Senin (19/4/2021).

Dia menegaskan, telah mengikuti aturan pemerintah dengan membuat imbauan kepada perantau agar tidak pulang kampung.

Namun demikian, Kresna mengaku sudah mengumpulkan ketua RT supaya mendata setiap warganya yang pulang dari perantauan.

Dia mengimbau kepada warga di perantauan kalau tetap pulang kampung harus lapor ke RT dulu.

“Teknisnya nanti seperti dulu. Saat ada perantau pulang harus disterilisasi. Barang-barang bawaan disemprot dengan disinfektan. Orangnya mandi keramas. Pakaian yang dikenakan langsung dicuci. Kemudian, diminta karantina mandiri di rumah dan wajib melaksanakan protokol kesehatan,” ujarnya.

Kresna sudah menyiapkan Poliklinik Desa Sambi sebagai rumah isolasi mandiri, tetapi selama ini belum pernah dimanfaatkan.

Selama ini, Kresna memilih pendekatan persuasif agar masyarakat mau menaati protokol kesehatan karena banyak warga yang membandel.

Kepala Desa Jetis, Sambirejo, Miyarno mengatakan, bahwa untuk antisipasi pemudik, Satgas tetap mengefektifkan aktivitas jogo tonggo dan mendata kedatangan pemudik menjelang Lebaran.

“Sampai sekarang belum ada pemudik yang tiba. Di Jetis tidak banyak perantau karena hanya 10-15 orang saja. Kami mengimbau mereka untuk tidak pulang,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mudik Lebaran Covid-19

Sumber : Solopos

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top