Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendapatan Petani Kopeng Lebih Stabil, Ini Pemicunya

Harga jual sayuran dan buah-buahan organik jauh lebih stabil dibandingkan harga pasar. Pasalnya, petani menjual langsung hasil pertanian ke konsumen dengan skema kerjasama.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 22 September 2021  |  17:16 WIB
Pitoyo, Ketua Kelompok Tani sekaligus Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Tranggulasi, menunjukkan lahan pertanian yang dikelola secara organik. - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan
Pitoyo, Ketua Kelompok Tani sekaligus Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Tranggulasi, menunjukkan lahan pertanian yang dikelola secara organik. - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, SEMARANG – Pitoyo, Ketua Kelompok Tani sekaligus Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Tranggulasi, merupakan salah satu pelopor sistem pertanian organik di kawasan Kopeng.

Berlokasi di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Pitoyo bersama anggota kelompok taninya telah menerapkan sistem pertanian organik sejak tahun 2004.

"Awalnya memang lebih bagus sistem pertanian konvensional, karena memang saat itu masih peralihan. Tetapi setelah bisa menyesuaikan, hasil sistem pertanian organik juga sama-sama menguntungkan. Secara kualitas tidak ada perbedaan. Bedanya di biaya perawatan yang lebih murah,” jelas Pitoyo saat ditemui Bisnis, Selasa (21/9/2021).

Kelompok Tani Tranggulasi sendiri secara khusus membudidayakan tanaman sayuran, mulai dari kol, lobak, bit, jagung, hingga tanaman rempah seperti rosemary. Pitoyo mengungkapkan bahwa semua jenis tanaman tersebut dikembangkan dengan cara organik.

Selama menerapkan sistem pertanian organik, Pitoyo mengungkapkan bahwa petani sepertinya merasakan sejumlah keuntungan. Selain biaya produksi yang rendah, pendapatan yang diraihnya kini jadi lebih stabil.

“Harga sayuran organik itu jauh lebih stabil. Karena selama ini produk organik kami lebih banyak men-supply mitra yang sudah bekerjasama dengan kami. Secara harga, bedanya jauh ketimbang menjual langsung di pasar. Kalau pasar harganya memang bisa naik lebih tinggi, tapi tidak lama. Tetapi dengan skema kerjasama, sayur organik itu bisa lebih stabil harganya,” jelas Pitoyo.

Piroyo mengungkapkan bahwa sebelum menerapkan sistem pertanian organik, pendapatan petani di sekitar wilayahnya masih sangat fluktuatif. Pasalnya, harga sayur yang dijual masih mengikuti harga di pasar-pasar tradisional.

“Kol misalnya, harganya bisa Rp1.000 tapi kadang bisa juga Rp250, bahkan bisa tidak laku sama sekali. Setelah beralih ke organik, rata-rata pendapatan kelompok kami per bulan bisa Rp20-25 juta,” jelas Pitoyo.

Saat ini, Pitoyo dan anggota kelompok taninya rutin menjadi supplier bagi supermarket, kafe, dan restoran di kota-kota besar. Produk sayuran organiknya kini bisa menjangkau Jakarta, Bogor, hingga luar Pulau Jawa.

“Kalau kafe dan restoran itu pesanannya tergantung jumlah tamu yang datang. Banyak juga yang ambil di kami. Seperti dari Kendal, itu biasa ambil sayuran 5 kali seminggu. Di Salatiga juga seminggu bisa 2-3 kali,” jelas Pitoyo.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng organik pertanian organik
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top