Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Keterlibatan Anak Muda Jadi Kunci Pengembangan Koperasi

Transformasi digital menjadi keharusan untuk menjaga relevansi koperasi.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (kedua dari kiri) saat menengok gerai koperasi asal Jawa Tengah yang mengikuti pameran Harkop Hybrid Expo (H2O) Tahun 2022 di halaman Gedung Gradhika Bhakti Praja pada Selasa (26/7/2022)-Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (kedua dari kiri) saat menengok gerai koperasi asal Jawa Tengah yang mengikuti pameran Harkop Hybrid Expo (H2O) Tahun 2022 di halaman Gedung Gradhika Bhakti Praja pada Selasa (26/7/2022)-Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan.
Bisnis.com, SEMARANG - Citra koperasi masih lekat dengan anggota yang berusia tua, hingga sistem dan layanan yang konvensional. Setidaknya hal itulah yang menjadi top of mind dalam pikiran anak-anak muda, menurut hasil survei yang digelar Indonesia Consortium for Cooperative Innovation (ICCI).

ICCP merupakan forum yang terbentuk pada 2018 lalu. Lembaga tersebut memang fokus untuk melakukan riset serta berbagai program lain demi pengembangan koperasi di Tanah Air, khususnya dengan melibatkan anak-anak muda.

Keterlibatan anak-anak muda memang jadi kunci bagi pengembangan koperasi. "Anak muda di tahun 2021 proporsi total populasi mereka itu jumlahnya 52 persen. Jadi, kalau mau bicara koperasi 20-30 tahun yang akan datang, merekalah yang akan menentukan bagaimana wajah koperasi di masa depan," jelas Anis Saadah, Managing Director ICCI, dalam diskusi yang digelar Harkop Hybrid Expo (H2O) Tahun 2022 pada Kamis (28/7/2022).

Menurut Anis, hingga hari ini, bisnis yang dijalankan koperasi masih terjebak pada kegiatan usaha konvensional. Misalnya saja simpan-pinjam. Padahal, masih banyak sektor usaha yang bisa dimasuki koperasi.

"Belum masuk ke sektor klinik kecantikan, barber shop, coffee shop, dan lain sebagainya. Ini perlu diperhatikan, bagaimana koperasi tetap relevan di masa depan. Dengan cara dia relevan di berbagai sektor bisnis, tidak hanya di satu model bisnis saja," jelas Anis. Pola pikir semacam itulah yang membuat koperasi kehilangan daya tariknya bagi anak-anak muda.

Untuk bisa menarik minat generasi milenial, Anis menyebut koperasi mesti bisa berbenah. Minimal, bisa menerapkan model usaha yang berkelanjutan dan menjalankan prinsip Good and Clean Governance (GCG). Apabila mampu memenuhi dua variabel itu, barulah kemudian koperasi beralih untuk mengembangkan layanan berbasis digital.

"Saya kira sekarang bukan pilihan 'Yes or No', tetapi memang keharusan bagi koperasi untuk melakukan transformasi digital. Agar tetap relevan dengan kondisi sekarang. Dan yang kedua, adalah dengan melakukan spin off. Pemekaran, dalam bahasa bisnisnya. Koperasi didorong untuk melakukan pengembangan di sektor lain, tidak hanya di satu sektor yang sudah berdiri," jelas Anis.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menyampaikan pesan yang sama ketika membuka acara H2O Tahun 2022 pada Selasa (26/7/2022) kemarin.

Menurut Ganjar, gerakan koperasi di Jawa Tengah sudah berjalan dengan cukup baik. "Enggak buruk-buruk amat sih, tapi rasa-rasanya mesti harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Termasuk dunia teknologi, memperbaiki sistem yang ada," ucap Ganjar di halaman Gedung Gradhika Bhakti Praja.

Tak dipungkiri, gerakan koperasi di Jawa Tengah memang pernah mengalami masa gelap. Ada banyak koperasi yang bermasalahan, mulai tidak aktif dalam menjalankan kegiatan, hingga kondisi usaha yang memang sudah tidak sehat.

Untuk itu, di awal kepemimpinannya, Ganjar mengambil langkah cepat untuk menertibkan koperasi-koperasi itu. "Dulu saya minta Dinkop-UKM (Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah) untuk me-review semuanya. Koperasi yang ora cetho tak suruh sudah di-euthanasia, disuntik mati. Bukan apa-apa, agar kemudian orang berkoperasi di koperasi terpercaya, yang kredibel," jelas Ganjar.

Dalam gelaran H2O Tahun 2022, Ganjar mengajak masyarakat untuk bisa melihat langsung seperti apa perkembangan gerakan koperasi di Jawa Tengah. "Jangan melihat jeleknya saja. Karena yang baiknya sekarang lagi kita pamerkan," ucap Ganjar.

Gerakan koperasi di Jawa Tengah sendiri boleh dibilang memang sudah tumbuh subur. Jumlahnya bahkan mencapai lebih dari 20.000 koperasi. Namun, kembali ke permasalahan awal, tak banyak generasi muda yang tertarik untuk berkoperasi.

Melalui gelaran H2O Tahun 2022 ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinkop-UKM berupaya untuk bisa mengangkat kembali citra koperasi, khususnya kepada anak-anak muda Jawa Tengah. Tema yang diambil pun cukup merangkum semangat itu, yaitu 'Koperasi Asyik, Tanpa Gimmick'.

"Kami ingin mendekatkan koperasi ini dengan kaum milenial sehingga sekarang berkoperasi itu asyik dan nyata, supaya anak muda mulai akrab dengan gerakan koperasi," jelas Ema Rachmawati, Kepala Dinkop-UKM Provinsi Jawa Tengah.

Selain dengan pameran, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah berupaya untuk memperkenalkan koperasi lewat layanan digital yang bisa diakses oleh siapa saja, termasuk generasi milenial.

Melalui Sistem Informasi Data Koperasi Jawa Tengah atau SIKIJANG, masyarakat bisa melihat sendiri koperasi-koperasi mana saja yang beroperasi dan mengantongi izin di Jawa Tengah.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, secara khusus memberikan respon positif atas layanan SIKIJANG itu. "Dengan adanya SIKIJANG ini, akan memudahkan masyarakat untuk mengecek status koperasi," jelasnya.

Teten juga berharap dengan gelaran H2O Tahun 2022 ini, gerakan koperasi di Jawa Tengah bisa terus berkembang. Tak cuma secara kuantitas, tapi juga kualitas. Dengan kata lain, koperasi-koperasi di Jawa Tengah diminta untuk bisa terus berinovasi.

"Karena sekarang ini koperasi banyak main di pinggiran, di ekonomi marjinal. Padahal banyak sekali sekarang sektor-sektor yang sedang kita buka," jelas Teten.

Senada dengan visi Menteri Koperasi dan UKM, Pakar Ekonomi Kerakyatan dari Universitas Gadjah Mada Revrisond Baswir berharap agar seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, bisa berkontribusi dalam mengakselerasi perkembangan koperasi.

"Ini adalah momentum yang sangat bagus bagi milenial untuk berkontribusi pada perkembangan koperasi. Karena ini kita bicara era digital. Hampir segala hal kita lakukan dengan fasilitas informasi teknologi," jelas Revrisond.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper