Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kawasan Utama Prostitusi di Solo Jadi Ganjalan Tekad Gibran

Bicara tentang prostitusi, beberapa kawasan Kota Solo sudah puluhan tahun dikenal sebagai surganya lelaki hidung belang. Salah satunya kawasan Kestalan.
Kurniawan
Kurniawan - Bisnis.com 02 Maret 2021  |  07:34 WIB
Ilustrasi razia PSK. - Antara
Ilustrasi razia PSK. - Antara

Bisnis.com, SOLO — Aksi Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, yang tancap gas perangi praktik prostitusi menarik perhatian sejumlah kalangan.

Pada beberapa kesempatan, baik wawancara langsung dengan wartawan maupun saat menjawab komentar-komentar di media sosial, Gibran mengungkapkan tekadnya membasmi praktik prostitusi. Terutama prostitusi online.

Pada sisi lain, prostitusi online itu sebenarnya merupakan bagian dari praktik yang lebih besar dan nyata ada di Kota Solo. Praktik prostitusi ini juga harus Gibran perangi sebagai pemimpin Solo.

Bicara tentang prostitusi, beberapa kawasan Kota Solo sudah puluhan tahun dikenal sebagai surganya lelaki hidung belang. Salah satunya kawasan Kestalan, Banjarsari, yang sudah terkenal di kancah nasional.

Tentunya tidak akan mudah untuk menghilangkan praktik prostitusi di kawasan dekat Stasiun Solo Balapan itu. Lebih sulit lagi mengubah image atau stigma yang telanjur berkembang menjadi kawasan prostitusi legendaris.

Saking legendarisnya kawasan itu, meski telah berperiode-periode kepemimpinan berganti, aktivitas prostitusi di Kestalan tetap ada. Hingga saat ini, di awal kepemimpinannya, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menyatakan tekad untuk perangi prostitusi.

Jika Gibran ingin membuktikan diri mampu mewujudkan tekadnya memerangi prostitusi, menangani kawasan Kestalan bisa menjadi tantangan berat. Meski dilakukan sembunyi-sembunyi untuk menghindari razia, faktanya praktik prostitusi di kawasan Kestalan itu masih ada.

Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI/Solopos) sempat menelusuri kawasan prostitusi di Kestalan tepatnya di Jl Natuna Gang I, beberapa waktu lalu. Ketika itu Sabtu malam, JIBI ditemani seorang kawan dan berpura-pura sebagai tamu.

Saat itu, ada lelaki paruh baya yang menghampiri kami di ujung gang. Lelaki itu menyapa sembari menanyakan keperluan. Sejurus kemudian ia mengantar berkeliling dari satu hotel ke hotel lainnya. Di hotel-hotel itu sudah banyak wanita pekerja seks komersial (PSK) menunggu.

Berpakaian terbuka dan berdandan menor, usia mereka kisaran 30 tahun hingga 40 tahun. Dari lelaki yang mengantar itu, kami tahu tarif para PSK itu Rp150.000 sudah termasuk tempat menginap.

Selain perempuan-perempuan di dalam hotel, ada PSK lain yang mangkal di pinggir Jl Natuna Gang I. Perempuan yang usianya terlihat lebih muda dari para PSK dalam hotel itu duduk di jok sepeda motor sembari menunggu tamu.

Perempuan yang rambutnya dicat pirang tersebut mengenakan celana hotpant. Kepala JIBI ia memasang tarif Rp200.000 untuk layanan yang sudah termasuk tempatnya. Ia berkukuh pada angka itu ketika ditawar.

Bila dilihat dari usianya, perempuan itu bisa dibilang merupakan generasi baru PSK di kawasan Kestalan. Artinya, regenerasi PSK di Kestalan terus berlanjut. Lalu mampukah Gibran memutus regenerasi itu? Mengakomodasi agar mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan mewujudkan kawasan Solo yang bebas dari prostitusi?


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng Solo prostitusi Gibran Rakabuming Raka

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top