Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asal Muasal dan Sejarah Nasi Kucing, Kuliner Khas Melintasi Batas

Kisaran 1942 dinamakan nasi kucing karena porsinya yang kecil. Seperti untuk memberi makan kucing dan pertama kali identik dengan lauk sambal teri atau bandeng atau gereh besek
Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso - Bisnis.com 05 November 2021  |  08:27 WIB
Asal Muasal dan Sejarah Nasi Kucing, Kuliner Khas Melintasi Batas
Nasi Kucing. - Bisnis
Bagikan

Bisnis.com, KLATEN — Warung hik atau angkringan memiliki banyak keunikan. Selain bentuk warung berupa gerobak khas dengan tutup tenda, hik atau angkringan menyajikan menu khas.

Salah satunya nasi kucing. Menu itu sudah ada sejak hik atau angkringan mulai dirintis oleh warga Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, di Kota Solo.

Salah satu pegiat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Suwarna, menjelaskan awalnya ada warga asal Dukuh Sawit, Desa Ngerangan yang merantau ke Solo dan menjadi buruh pedagang terikan. Warga itu bernama Karso Djukut.

Mbah Djukut awalnya berinisiatif menjajakan terikan sembari membawa cerek wadah minuman. Lambat laun, menu terikan itu mulai tergeser dengan menu nasi bungkus dengan lauk secuil daging bandeng atau gereh lengkap dengan sambal. Nama menu tersebut lantas dikenal dengan nasi kucing dan melekat hingga kini.

“Kisaran 1942 dinamakan nasi kucing karena porsinya yang kecil. Seperti untuk memberi makan kucing dan pertama kali identik dengan lauk sambal teri atau bandeng atau gereh besek yang biasa digunakan untuk memberi lauk makan kucing,” kata Suwarna.

Seiring perkembangan zaman, menu nasi semakin beragam. Tak hanya lauk sambal bandeng atau teri, menu nasi kini menggunakan lauk sambal tempe hingga sambal belut. Namun, porsinya tetap mini.

Satu lagi menu khas hik atau angkringan adalah minuman. Teh panas legi kenthel atau nasgitel menjadi menu minuman yang seakan tak bisa ditinggalkan.

Suwarno menjelaskan racikan minuman teh nasgitel itu kali pertama dipopulerkan oleh warga Dukuh Sawit, Desa Ngerangan, Wiryo Je, ketika masih menjadi prembe atau anak buah juragan angkringan pada era 1940-an. Wiryo mengenalkan minuman teh kental hasil oplosan dari berbagai merek teh. Racikan teh oplosan itu yang hingga kini masih diterapkan bakul angkringan terutama yang berasal dari Ngerangan.

Suwarna mengatakan racikan teh biasanya disesuaikan dengan kekhasan wilayah masing-masing tempat pelaku usaha hik atau angkringan itu berjualan. “Kemudian ada tata cara meracik dan cara menuangkan ke gelas. Juga air yang mendidih dimasak menggunakan bara arang. Ini akan sangat menentukan cita rasa,” kata Suwarna.

Namun, para pelaku usaha angkringan terutama yang berasal dari Ngerangan maupun Bayat secara umum tak pernah menggunakan campuran teh celup. “Ini soal rasa,” ungkap dia.

Selain dua menu tersebut, ada menu lainnya yang menjadi ciri khas angkringan. Suwarna menyebutkan seperti jadah bakar, satai kere, jahe gepuk, serta teh lemon.

Suwarna kembali menegaskan cikal bakal angkringan atau hik berasal dari Desa Ngerangan. Hingga kini, usaha angkringan menjadi usaha andalan mayoritas warga Ngerangan.

“Dalam satu desa 75 persen penduduknya sampai saat ini menjadi pedagang angkringan. Bisa dibilang, Ngerangan menjadi satu-satunya desa di Indonesia yang ekonomi masyarakatnya ditopang dari kegiatan angkringan,” kata Suwarna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng Solo klaten

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top