Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minat Belanja Masyarakat Kota Semarang Meningkat Saat Ramadan

Dinas Perdagangan Kota Semarang mencatat perubahan perilaku konsumen di bulan Ramadan. Meningkatnya kebutuhan belanja masyarakat diprediksikan bakal memberikan dampak positif bagi pedagang pasar.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 19 April 2021  |  17:16 WIB
Bupati Semarang Ngesti Nugraha (kanan) berdialog dengan pedagang saat pembagian antiseptik tangan (hand sanitizer) serta pemantauan harga kebutuhan pokok masyarakat di Pasar Bedono, Kecamtan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (8/4/2021). Pemkab Semarang akan menstabilkan harga sejumlah kebutuhan pokok jelang bulan Ramadhan yang mulai mengalami kenaikan harga sebesar 10 persen melalui operasi pasar.  - Antara/Aji Styawan.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha (kanan) berdialog dengan pedagang saat pembagian antiseptik tangan (hand sanitizer) serta pemantauan harga kebutuhan pokok masyarakat di Pasar Bedono, Kecamtan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (8/4/2021). Pemkab Semarang akan menstabilkan harga sejumlah kebutuhan pokok jelang bulan Ramadhan yang mulai mengalami kenaikan harga sebesar 10 persen melalui operasi pasar. - Antara/Aji Styawan.

Bisnis.com, SEMARANG – Dinas Perdagangan Kota Semarang mencatat perubahan pola konsumsi masyarakat di bulan Ramadan.

Sugeng Dilianto, Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilisasi Harga, menyampaikan selain terjadinya kenaikan sejumlah komoditas pokok, perubahan perilaku konsumen juga ikut memberikan dampak bagi perdagangan.

“Menjelang hari Ramadan perilaku konsumen mendadak berubah drastis. Dari biasanya konsumen berbelanja secukupnya untuk makan sehari-hari, ketika Ramadan berbelanja dengan anggaran yang lebih besar dan berusaha menyediakan porsi lebih dari biasanya,” Jelas Sugeng, Senin (19/4/2021).

Sugeng menjelaskan bahwa perubahan tersebut dirasakan secara langsung baik oleh produsen ataupun pedagang. “Terutama pedagang di pasar tradisional atau pasar induk yang perubahannya jelas terasa. Keuntungan yang berlipat dapat dikeruk dibandingkan bulan-bulan lainnya,” tambahnya.

Perubahan perilaku tersebut juga didukung oleh mulai turunnya harga komoditas pokok seperti cabai rawit. Sebelum Ramadan, komoditas tersebut sempat langka di pasaran. Sugeng menyampaikan bahwa setidaknya ada beberapa faktor penyebab kelangkaan cabai merah.

Pertama adalah rendahnya pasokan dari tingkat petani, hal ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya curah hujan di Jawa Tengah yang mengakibatkan rusaknya tanaman cabai. Selain itu, petani cabai juga lebih banyak menjual hasil panennya ke tengkulak di Jakarta karena harga belinya yang lebih mahal.

Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah, harga rata-rata komoditas cabai rawit merah di Kota Semarang pada 19 April berada di angka Rp59,800 per kilogram. Bawang merah masih dibandrol di harga rata-rata Rp28,600 per kilogram. Sementara itu, harga daging ayam broiler masih di angka Rp79.000 per kilogram.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Pribadi Santoso, menyampaikan bahwa penjualan eceran di Kota Semarang mengalami sedikit peningkatan di bulan Februari. Meskipun secara umum, kondisinya masih mengalami kontraksi.

Membaiknya kinerja penjualan eceran di Kota Semarang terlihat dengan Indek Keyakinan Konsumen (IKK) di bulan Maret yang menunjukkan angka 108,53 atau berada di level optimis. Diperkirakan, peningkatan omzet penjualan eceran bakal terjadi pada bulan Juni dan September nanti.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng semarang
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top