Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tol Solo-Jogja, Akademisi Ungkap Sejumlah Kelebihan

Penglajo Solo-Jogja sempat menghitung jumlah traffic light di sepanjang ruas jalan itu mencapai 36 titik.
Mariyana Ricky Prihatina Dewi
Mariyana Ricky Prihatina Dewi - Bisnis.com 12 Januari 2022  |  09:29 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bisnis.com, SOLO — Perjalanan dari Solo ke Jogja menggunakan mobil atau sepeda motor maupun angkutan umum lewat jalan Solo-Jogja saat ini membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Banyaknya traffic light membuat waktu perjalanan terbuang sia-sia.

Pembangunan jalan tol Jogja-Solo digadang-gadang bakal mempersingkat waktu tempuh kedua kota. Solo-Jogja yang biasanya ditempuh 1,5 jam hingga 2 jam dapat diperpendek menjadi 20 menit mulai 2023 saat tol rampung dibangun.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, menilai pendeknya waktu tempuh itu akan berdampak signifikan terhadap banyak hal. Distribusi barang menjadi lebih cepat, begitu pula perjalanan kendaraan wisata antarkedua kota.

Ia menyebut para penglajo Solo-Jogja sempat menghitung jumlah traffic light di sepanjang ruas jalan itu mencapai 36 titik. Apabila setiap titiknya, pengendara harus berhenti selama satu menit, maka total waktu hentinya sampai 36 menit. Artinya pula, ada 36 menit waktu yang terbuang hanya untuk menunggu traffic light dari merah ke hijau.

“Saat pengendara lewat jalan tol, mereka sudah memangkas 36 menit sendiri,” katanya kepada JIBI, Selasa (11/1/2022). Lukman menyampaikan diskusi mengenai jalan tol Solo-Jogja itu sudah mulai mengemuka dari 1980-an.

Namun saat itu hasil diskusi dan studi dianggap tidak feasible karena lalu lintas tidak sepadat saat ini sehingga keberadaan jalan tol dianggap tidak berpengaruh besar. Begitu pula, jumlah traffic light yang kala itu belum sepadat saat ini. Isu lain saat itu adalah jalur jalan tol Solo-Jogja yang akan dibuat.

“Dulu diperkirakan kalau lewat daerah Klaten akan banyak merusak situs bersejarah punya Keraton, jadi takut untuk dibuat. makanya Sultan HB X mengatakan silakan buat jalan tol Solo-Jogja tapi lewat atas. Maka akhirnya jalan tol itu dibuat melayang atau elevated. Mulai dari keluar pintu tol Solo langsung naik ke atas, sehingga hanya butuh 20 menit karena jalurnya lurus,” bebernya.

Studi kelayakan atau feasibility study pada 1980-an masih lewat jalan bawah yang dikhawatirkan menabrak situs-situs bersejarah dan tanah pepunden Keraton, sehingga tidak diterima dengan baik. Teknologi belakangan ini memungkinkan keberadaan jalan tol layang sehingga butuh waktu hanya 20 menit dari Solo-Jogja, pun sebaliknya.

“Distribusi barang lancar, penglajo lebih cepat sampai, nantinya akan mendukung keberadaan kereta rel listrik (KRL) Solo-Jogja, karena ini transportasi massal, sedangkan tol digunakan untuk transportasi pribadi dan barang, ya memang nanti persoalannya di cost ya, tarifnya berapa,” ujarnya.

Lukman mengatakan jika tarifnya sama seperti tol Solo-Semarang yang mencapai Rp1.000 per km, tarif itu sangat tinggi. Ia menduga tarif tinggi lah yang jadi penyebab tol-tol saat ini masih sepi. Ihwal kekhawatiran jalur lama akan mati, ia memastikan sebaliknya.

Hal tersebut adalah proses transformasi biasa, di mana masih akan ada pengendara yang lewat jalan nontol karena menuju daerah-daerah yang tak memiliki pintu tol.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng surakarta tol solo-yogyakarta

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top