Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Ibu di Semarang, Kehilangan Tiga Pahlawan Keluarga di Masa Pandemi

Dengan kepergian kedua anak saya dan suami, saya merasa kehilangan. Maaf, ya, tutur Nunuk sembari menyeka air matanya.
Alif Nazzala R.
Alif Nazzala R. - Bisnis.com 11 November 2020  |  10:00 WIB
Foto Nunuk Widiasih bersama keluarga.
Foto Nunuk Widiasih bersama keluarga.

Bisnis.com, SEMARANG - Nunuk Widiasih (62), tidak mampu menahan air matanya saat menceritakan kisah pilu yang dialami keluarganya. Seorang pensiunan PNS Polri ini, harus kehilangan suami dan dua anaknya karena terjangkit virus corona.

Sesekali ia menyeka air matanya yang menetes, Nunuk ingat benar perjalanan dan perjuangan hidup kedua anaknya yang berprofesi sebagai tenaga medis. Yakni dr Eliana Widiastuti (40) dan Sang Aji Widi Aneswara (32). Bahkan di dinding ruang tamu rumahnya di Jalan Jomblang Perbalan 781 RT 4 RW 1 Kelurahan Candi, Candisari, Kota Semarang masih terpampang sejumlah foto kedua anaknya tersebut.

Awalnya, Soewardi suaminya terjangkit Covid-19 dan meninggal dunia, Minggu (28/6/2020). Belum reda kesedihan, di hari yang sama dr Eliana mengeluhkan sakit usai mengikuti prosesi pemakaman ayahnya dan dibawa ke RS Roemani. Namun, tak selang lama ia tutup usia. Eliana adalah tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Halmahera, Kota Semarang.

Beberapa hari kemudian, Sang Aji dinyatakan positif dan harus menjalani isolasi di RS KRMT Wongsonegoro, 1 Juli 2020. Kondisi kesehatannya terus memburuk dan akhirnya meninggal dunia, Senin (6/7/2020).

“Dengan kepergian kedua anak saya dan suami, saya merasa kehilangan. Maaf, ya,” tutur Nunuk sembari menyeka air matanya, saat ditemui baru-baru ini.

Bagi Nunuk, kedua anaknya itu adalah pahlawan. Sebab, selain sosok yang perhatian untuk keluarganya, juga peduli sesama terutama dalam berjuang melawan Covid-19.

“Menurut saya mereka itu pahlawan. Sayang banget kepada keluarga dan peduli sesama. Anak-anak saya itu tidak pernah membedakan, suka menolong kalau ada orang sakit pasti dilayani setiap saat,” ungkapnya.

Menjadi dokter, menurut Nunuk, sudah menjadi pilihan anak-anaknya. Saat ini, Eliana meninggalkan tiga anak, dan Sang Aji satu anak.

“Saya sedih ingat kalau mereka masih punya anak yang masib kecil. Saya berharap anaknya nanti bisa melanjutkan perjuangan orang tuanya, syukur kalau mendapat perhatian dari pemerintah karena anak saya itu sudah berjuang,” katanya, dan lagi-lagi air mata Nunuk menetes.

Perasaan sedih juga dialami Heti Sanjaya (29), istri Sang Aji yang saat ini tinggal di Jalan Kawung, Tlogosari, Kota Semarang. Saat ini, ia harus merawat sendiri putri semata wayangnya, Nafasya Mily Widi Sanjaya, yang berusia 18 bulan.

“Saya merasa kehilangan banget. Dia adalah sosok suami yang baik buat keluarga, dan juga sosok dokter yang peduli,” ujarnya.

Suaminya itu bertugas di Puskesmas Karanganyar, Kota Semarang, dan sempat ditugaskan merawat pasien positif Covid-19 di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, hingga akhirnya meninggal setelah dinyatakan positif Covid-19.

“Saya sempat khawatir saat beliau ditugaskan di Rumdin. Tapi beliau selalu meyakinkan bahwa itu menjadi tanggung jawab dan Insyaallah selalu dilindungi Allah SWT,” kisah Heti.

Ia berharap, kisah suami dan kakak ipar tersebut menjadi penyemangat bagi para dokter yang masih berjuang melawan Covid-19.

“Untuk para dokter terus berjuang, dan jangan lupa jaga kesehatan. Dan masyarakat supaya bisa mematuhi protokol kesehatan. Bagi kami, corona itu nyata. Suami saya, adalah pahlawan bagi kami dan kita semua,” tegasnya.

Ica Sabrina, rekan kerja Sang Aji menyebutkan, almarhum punya kepedulian sosial yang tinggi.

“Orangnya baik, sangat peduli. Pernah hari Minggu saja masuk dan menengok pasien. Selain itu, banyak memberikan pelajaran soal kesehatan pada rekan kerjanya,” katanya.

Sementara Kepala Puskesmas Halmahera, Tury Setiawati menuturkan, Eli merupakan sosok dokter pekerja keras. Ia tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya.

“Iya, dokter Eli orangnya bertanggung jawab. Ia juga punya adik dokter, dan meninggal karena Covid-19. Ia (dan adiknya) kami anggap sebagai pahlawan karena perjuangannya. Kami merasa kehilangan,” tandasnya.

Eliana Widiastuti (40) dan Sang Aji Widi Aneswara (32) adalah sebagian kecil dari dokter di Indonesia, bahkan dunia yang telah mendedikasikan dirinya dalam melawan Covid-19. Sebagian besar negara di dunia saat ini, terus berjuang menghentikan penyebaran virus yang kali pertama muncul di Wuhan. (k28)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng semarang Features
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top